Pura Ulun Swi

u7lun swi

Nama pura ini adalah “Pura Ulun Swi”. Masyarakat setempat kadang-kadang menyebutnya Pura Gede. Secara etimologis kata Ulun Swi dapat diuraikan sebagai berikut:

Ulun
yang berasal dari kata Ulu yang artinya atas, kepala, pusat atau
sumber, sedangkan kata Swi artinya sawah. Keterangan ini sesuai dengan
keterangan yang ditulis dalam Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul,
lembar ke-18.selengkapnya
Disamping itu arti kata Swi, juga berarti air. Jadi Pura Ulun Swi
artinya Ulun Sawah atau Ulun Carik, atau pusat/sumber kemakmuran sawah.
Dengan demikian Pura Ulun Swi berarti pura pusat kemakmuran sawah.

Lokasi Pura

Pura
Ulun Swi ini terletak di sebelah selatan Banjar Mendega Desa Jimbaran,
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Jaraknya lebih kurang 15 km di
sebelah selatan Kota Denpasar, mengikuti jurusan jalan raya dari
Denpasar ke Uluwatu, dan pura terletak di sebelah barat jalan raya
menghadap ke timur.

Keadaan alam sekitarnya adalah susunan
pedesaan dan pura berada di tengah-tengah desa dilindungi oleh
perumahan-perumahan penduduk. Di muka pura di seberang jalan raya, di
sebelah timurnya, terdapat Pasar Jimbaran yang dikelilingi oleh
toko-toko.

Desa Jimbaran adalah suatu desa di Pantai Selatan dekat
tanah genting Pulau Bali, sehingga keadaan udara di sana cukup panas.
Keadaan desanya datar dan luas sesuai dengan namanya sendiri, yaitu
Jimbaran yang berarti lebih luas.

Sejarah Pura

Mengenai
penyusunan sejarah pendirian Pura Ulun Swi di Jimbaran itu secara
menyeluruh masih kekurangan bahan-bahan atau data-data yang lebih
lengkap seperti: prasasti, purana pura tersebut, style bangunan, type
arca-arcanya dan lain sebagainya. Mengingat pura itu telah mengalami
restorasi dan perluasan, maka sulitlah menelitinya, dari segi arsitektur
klasik dan beberapa arca-arca yang ada di sana, tata letaknya sudah
tidak beraturan lagi sehingga dengan demikian sulitlah menghubungkannya
dengan kronogram yang terkandung di dalamnya.

Di dalam memecahkan
masalah ini, maka dipakai data-data berupa hasil wawancara, dengan
pemangku dan tokoh-tokoh masyarakat yang ngemong pura itu serta beberapa
sulinggih yang dianggap mengetahui asal-usul pura tersebut. Data
historis primer yand dipergunakan adalah : keterangan-keterangan
tertulis yang terdapat dalam beberapa lontar yang kami dapati di Bali
yang menguraikan atau menyinggung tentang Pura Ulun Swi itu. Adapun
lontar-lontar itu adalah :

Lontar Usana Dewa (Koleksi Perpustakaan Universitas Udayana Denpasar)

Di dalam lembar ke-17 lontar ini ada disebutkan :

“………nihan
prateka kutara ring Bali kaunggwan denira Empu Kuturan, bhiniseka
maring majapahit, magawe maring Bali unggwan Bhatara kabeh, Bhatara ring
Batu Madeg, Bhatara ring Matu Panyeneng, Bhatara ring Pintu Aji,
Bhatara Kadhaton, Bhatara ring Tengah Mel, Bhatara ring Tukabyang,
Bhatara ring Batur Kawu, Bhatara ring Kapatigan, ring Pujung, Bhatara
ring Uluwatu, ring Manisan, ring Sakenan, ring Marga Laya, Bhatara ring
Limasanak, nga, Dewa ring Delod Peken, Pengulun Gelgel, penyungsungan
para punggawa ring Bali, wite tuwah Majapahit, nga, sapungkus Sang
Bakabhumi panyeneng ring Ulun Swi, ika maka uriping Sawah……..”

Maksudnya :

“………….inilah
hal ikhwal keadaan di Bali, diletakkan oleh Beliau Empu Kuturan, yang
dinobatkan dari Majapahit (maksudnya Jawa), membawa ke Bali linggih
Bhatara semua, Bhatara di Batu Madeg, Bhatara di Batu Panyeneng,
Bhatara di Pintu Aji, Bhatara di Kedaton, Bhatara di Tengah Mel, Bhatara
di Tukabyang, Bhatara di Batur Kawu, Bhatara di Kapatigan, di Pujung,
Bhatara di Ulu Watu, di Manisan, di Sakenan, di Margalaya, Bhatara di
Limasanak, yaitu Dewa di Lod Peken. Maka ulu Gelgel, pemujaan para
punggawa di Bali, asalnya adalah Majapahit yaitu yang bernama Bakabhumi
bersthana di Ulun Swi itu menjadi jiwanya sawah………..”

Lontar Ilikita

Yang tersimpan di Puri Gede di Mengwi, ada menyebutkan sebagai berikut :

“…….nguni
kala nira I Gusti Agung Dimade mintar saking Gelgel angungsi alas
Jimbaran, ing kana sira angrabas wana nuli angwangun wisma kalane
angrabas wana, hana katemu pura alit madyaning alas Jimbaran. Kaucap
pangasthanan Ida Bhatara Rambut Sadhana mwah Bhatara Ulun Swi, wyadin
Maspahit, urip gaga mwah sawah panyiwyan, wong acacarik, mwah ajanggala.
Punika kaahyun kapanggihin antuk Ida lawan ta waneh sapamadeg ira
Cokorda Made Munggu natha Mengwi kaping 5, pura inucap malih
kapagengin……..”

Maksudnya :

“……dahulu ketika
beliau I Gusti Agung Dimade pindah, dari Gelgel menuju hutan Jimbaran,
di sana beliau merabas hutan, terus mendirikan pondok. Ketika merabas
hutan, ada dijumpai pura kecil di tengah hutan Jimbaran, disebut linggih
Ida Bhatara Rambut Sadhana dan Bhatara Ulun Swi beserta Maspahit, jiwa
dari pada ladang dan sawah, pemujaan orang yang berpencaharian di sawah
dan ladang. Itulah diperbaiki diperbesar oleh beliau. Selain daripada
itu, pada masa pemerintahan beliau Cokorda Made Munggu Raja Mengwi yang
kelima, pura tersebut telah diperbesar……..”

Lontar Babad Mengwi

Koleksi
Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, di dalam
lembar ke-74 lontar ini ada disebutkan sebagai berikut :

“………tucapa
mangke, strinira Cokorde Made Agung, sang amundering Mengwi, kang
anuwuhaken wangsa, apatra Gusti Luh Asem, aputra stri, abhiseka I Gusti
Ayu Agung Ratu, datu tan pakrama neher apodgala apuri ring Puri Dalem,
Gusti Luh Patilik, asuta I Gusti Agung Made Agung, ri wus nira werda
malih inaturan stri saking Nambangan, anak I Gusti Tegeh Kori aputra I
Gusti Ayu Bongan, kapaicayang ring Ngurah Made ring Pamecutan, den I
Gusti Ayu Oka, apan ri mangkana, sira I Gusti Ayu Oka jumeneng natha
Putri ring Kawyaraja, kinaryanan puri ring Kaleran-kawan, kapatadtadin
kawula utaranya Dalung-Gaji, tekening Jimbaran, neher asantana ring
Denpasar………”

Maksudnya :

“………katakan sekarang,
istrinya Cokorde Made Agung, yang memerintah di Mengwi, yang mengadakan
keturunan, beristri Gusti Luh Asem, berputra istri, bernama I Gusti Ayu
Agung Ratu, perawan tua tidak bersuami lalu madiksa (menjadi pendeta)
bertempat tinggal di Puri Dalem, Gusti Luh Patilik, berputra I Gusti
Agung Made Agung, ketika beliau tua lagi diaturi istri dari Nambangan,
anak I Gusti Tegeh Kori, berputra I Gusti Ayu Bongan, diserahkan kepada
Ngurah Made di Pamecutan oleh I Gusti Ayu Oka, karena ketika itu beliau I
Gusti Ayu Oka menjadi Raja Putri di Mengwi, dibuatkan Puri di
Kaleran-kawan, diberi bekal (tadtadan) rakyat batas utaranya Dalung
Gaji, sampai ke Jimbaran, lalu berketurunan di Denpasar……”

Lontar Babad Jimbaran

Koleksi
I Nengah Kerthadana dari desa Werdhi Bhuwana, Mengwi, Badung. Di dalam
lembar ke-8 lontar ini disebutkan sebagai berikut :

“……mwah
wuwusen ta sira Dalem Petak Jingga apan sira pinisinggih dening
sawonging Jimbaran, raris sira angwangun paryangan stana bhatara meru
tumpang solas ingarananta Ulun Swi. Hana pwa ya sentana nira I Gusti
Anglurah Tegeh Kori, sumawita ring Dalem Petak Jingga sira ta kinonira
amangkunin, palinggih bhatara ring Ulun Swi……”

Maksudnya :

“…….lagi
katakanlah beliau Dalem Petak Jingga, karena beliau dimuliakan oleh
seluruh rakyat di Jimbaran, lalu beliau membuat pura lingga bhatara,
meru tumpang solas, dinamailah itu Ulun Swi. Ada keturunan I Gusti

Ngurah Tegeh Kori, bakti kepada Dalem Petak Jingga, dialah disuruh
beliau menjadi pemangku, palinggih Bhatara Ulun Swi………”

Purana Bali

Dalam Purana Bali ada disebutkan sebagai berikut :

“Pada
mulanya Pura Ulun Swi itu ada Pura kecil yang dibuat oleh Empu Kuturan
bersama dengan pendirian Pura Sad Kahyangan di Bali. Pura ini dibuat di
dalam hutan yang luas (sekarang bernama Jimbaran) sebagai pusat atau
sumber kemakmuran sawah. Kemudian I Gusti Agung Dimade lari dari Gelgel
karena dikejar oleh Laskar Dalem, lalu beliau menuju hutan Jimbaran
untuk menyembunyikan diri. Di dalam hutan itu I Gusti Agung Dimade
menjumpai sebuah palinggih kecil, bernama Ulun Swi. Di sanalah beliau
berdoa mohon agar beliau selamat dari kepungan pasukan Dalem yang
mengejarnya dan beliau berkaul akan memperbaiki dan memperbesar pura
itu. Permohonan beliau itu berhasil. Setelah beliau mendapat kejayaan
dan kebesaran sampai menguasai sebagian Pulau Bali, yaitu batas timurnya
sebelah Sungai Petanu, batas utaranya berbatasan dengan daerah
kekuasaan Panji Sakti di Buleleng. Batas selatannya terus tembus ke
Pantai Laut Selatan, batas baratnya tembus sampai ke Pantai Barat Pulau
Bali. Bahkan sampai ke Blambangan di Jawa Timur. Lalu putra beliau
memenuhi kaul beliau yaitu memperbaiki dan memperbesar Pura Ulun Swi.
Beliau membuat palinggih tumpang 11 di Pura itu. Oleh karena terjadi
ketegangan-ketegangn politik dan suasana jaman itu kurang aman, maka
untuk memudahkan pemujaan terhadap Bhatara-Bhatara Sad Kahyangan Jagat
Bali, lalu beliau membuat pelinggih-pelinggih pesimpangan Sad Kahyangan
Jagat Bali berbentuk padma sebanyak 6 buah dan palinggih-palinggih itu
diletakkan di dalam meru yang bertumpang sebelas itu. Oleh cucu beliau
yaitu Cokorda Munggu, juga Pura Ulun Swi itu diperbaiki lagi. Setelah
itu ketika terjadinya perkawinan I Gusti Ayu Bongan yaitu putri Mengwi
dengan I Gusti Ngurah Made Pamecutan di Denpasar lalu daerah kekuasaan
Mengwi dari Desa Dalung ke selatan sampai ke laut diserahkan sebagai
barang bawaan kawin (Artha dana) kepada I Gusti Ngurah Pamecutan.
Kemudian dari pada itu terjadilah ketegangan fisik antara Mengwi dengan
Badung, sehingga Mengwi sulit lagi bisa pergi ke Pura Ulun Swi di
Jimbaran. Lalu Raja Mengwi membuatlah suatu pesimpangan Pura Ulun Swi
dan dibangun di Desa Seseh, yang ada sampai sekarang. Penjelasan yang
hampir sama juga berasal dari seorang pendeta dari desa Munggu, yaitu
Ida Padanda Gde Pamaron.

Berdasarkan keterangan-keterangan
tersebut di atas, maka keterangan yang diperoleh dari lontar-lontar
tersebut, maupun keterangan-keterangan lisan yang diperoleh dari
orang-orang yang mengetahui tentang keadaan Pura Ulun Swi itu, terutama
keterangan Ida Pedanda Gde Pemaron di Munggu, maka setelah mengadakan
analisa dan mencocokkan dengan realitas-realitas yang ada, dapatlah
diambil suatu kesimpulan mengenai sejarah Pura Ulun Swi itu, ialah
sebagai berikut :

Pura Ulun Swi di Jimbaran itu pada mulanya
dibuat oleh Empu Kuturan, sekitar abad ke-11 sejaman dengan pembuatan
Pura Kahyangan Jagat di Bali. Di muka meru besar bertumpang 11 di Pura
Ulun Swi itu, terdapat arca kuno, type abad ke-17, yang diletakkan
berjejer, yaitu Arca Dewata Nawa Sangga, berbentuk Rudra di Selatan,
Arca Panca Pandawa, berbentuk Bhima di Tengah dan Arca Dewa Astha Wasu,
berbentuk Gana Patya di Utara. Diduga arca-arca tersebut adalah suatu
kronogram. Kalau dugaan itu benar, maka dapatlah diartikan :

  • Arca Dewata Nawa Sangga : bernilai 9
  • Arca Panca Pandawa : bernilai 5
  • Arca Dewa Astha Wasu : bernilai 8

Oleh
karena berbentuk kronogram, maka pembacaannya adalah dari kiri ke
kanan, sehingga menunjukan angka 958 Saka atau 1036 Masehi.

Adapun
tahun 1036 Masehi itu adalah masa Empu Kuturan di Bali. Hal ini
dikuatkan oleh keterangan prasasti Batu Madeg di Besakih yang berangka
tahun 963 Saka atau 1041 Masehi, yang menyebutkan kedatangan Mpu Kuturan
ke Bali. Dari Purana Bali, didapat keterangan bahwa kedatangan Empu
Baradah ke Bali adalah menemui kakaknya yaitu Empu Kuturan di Silayukti.

Dari
sumber-sumber tersebut di atas, memberikan keyakinan bahwa Pura Ulun
Swi di Jimbaran itu adalah dibuat pada tahun 1036 Masehi atau pada abad
ke-11, sesuai dengan keterangan yang tersebut dalam keterangan yang
tersebut di dalam Lontar Usana Dewa.

Keterangan di atas ada
persesuaiannya dengan keterangan di dalam Babad Jimbaran dimana di dalam
bagian pendahuluannya menyebutkan Dalem Petak Jingga, pindah dari
Gelgel menuju hutan Jimbaran, yang kemudian membuat Meru Tumpang 11
dinamai Ulun Swi. Kalau diteliti lebih lanjut yang menyebut Dalem Petak
Jingga itu sesuai dengan peristiwa yang menimpa I Gusti Agung Dimade,
yang lari dari Gelgel menuju hutan luas di Jimbaran, yang kemudian
memperbesar Pura Ulun Swi itu. Hanya dalam hal itu terdapat perbedaan
nama dari pelaku peristiwa itu. Kami cenderung atau menduga yang disebut
“Dalem Petak Jingga” itu adalah I Gusti Agung Dimade, yang menurunkan
dinasti Mengwi, yang mewilayahi Desa Jimbaran sebab di dalam Babad
Mengwi dan juga Pamancangah Dalem, tidak dikenal Dalem Petak Jingga.
Disamping itu sudah menjadi kelaziman di jaman yang lampau bahwa orang
yang tidak berani menyebutkan nama raja yang sebenarnya sebagai tanda
bakti kepadanya, melainkan menyebutnya dengan nama kiasan saja.

Lebih
lanjut perbaikan Pura Ulun Swi itu dilakukan oleh Cokorda Munggu,
sebagai Raja Mengwi yang kelima. Menurut keterangan di dalam Ilikita
yang tersimpan pada Puri Agung Mengwi. Perbaikan itu rupa-rupanya
terjadi pada tahun 1685 Saka atau tahun 1763 Masehi dan sebagian dari
sisa bangunannya itu masih ada sekarang berupa daun pintu beserta
ulap-ulap dari Kuri Agung Pura itu dan pada ulap-ulap itulah didapatkan
angka tahun tersebut di atas.

Selanjutnya ketika terjadi
perkawinan antara I Gusti Ayu Bongan yaitu Putri Kerajaan Mengwi dengan I
Gusti Ngurah Pemecutan di Denpasar lalu daerah kekuasaan Mengwi dari
Desa Dalung ke selatan sampai ke laut, diserahkan sebagai pembawaan
kawin kepada I Gusti Ngurah Pemecutan dan sejak itulah Pura Ulun Swi itu
rupa-rupanya diemong oleh Puri Pemecutan di Denpasar, Pura Ulu Watu
diemong oleh Jero Kuta di Denpasar dan Pura Sakenan di Serangan diemong
oleh Jero Kesiman di Kesiman. Keterangan terjadinya peristiwa perkawinan
itu, termuat dalam Babad Mengwi. Kemudian dari pada itu, terjadilah
ketegangan politik antara Mengwi dengan Badung, sehingga Mengwi sulit
lagi jika pergi ke Pura Ulun Swi di Jimbaran lalu Raja Mengwi membuatlah
Pesimpangan Pura Ulun Swi, dan dibangun di Desa Seseh yang masih ada
sekarang.

Status Pura

Menurut Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, lembar ke-28 disebutkan sebagai berikut :

“Ikang
aneng nagara krama, ikang Sad Kahyangan pupulnya mulih, maring Ulun
Swi, rumaksa uriping sawah kabeh, ikang pwa dharma Ulun Swi , dadi
bandanganing wong Bali……..”

Maksudnya :

“Adapun
yang berada di masyarakat, Sad Kahyangan itu kumpulnya kembali di Ulun
Swi menjaga jiwanya sawah semua adapun Pura Ulun Swi itu, adalah
pengikatnya orang Bali………..”

Menurut Lontar Usaha Dewa, lembar ke-17, disebutkan sebagai berikut :

“……….Sang
Bhakabhumi anyeneng ring Ulun Swi ika maka uriping sawah, pakenanya,
kebo cemeng pamapage nuju sasih kapat bandhangan wong Bali ika……….”

Maksudnya :

“……….Sang
Bhakabhumi bersthana di Ulun Swi, itu menjadi jiwanya sawah, acinya
kerbau hitam, upacaranya ketika sasih kapat, pengikat orang Bali
itu………”

Di dalam Lontar Çri Purana lembar ke-38, disebutkan sebagai berikut :

“………malih
ring Bali wenten Bhatarane ngamong bhaga sawah, ika Bhatara urubing
geni parabe, alingga ring Badugul, Gunung Pangelengan, Bharata Indra
Bhumi malinggih ring Ulun Swi gunung idane Gunung Tuluk Biyu ring
Trunyan……..”

Maksudnya :

“………lagi di Bali, ada
Bhatara yang memegang ladang dan sawah, itu Bhatara Urubing Geni
namanya, bersthana di Bedugul, Gunung Beratan, dan di Gunung
Pangelengan. Bhatara Indra Bhumi bersthana di Ulun Swi, gunung beliau
Gunung Tuluk Biyu di Trunyan………”

Dari ketiga urutan lontar di
atas, ditambah pula dengan keterangan-keterangan lontar-lontar yang
menyangkut historis Pura itu, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa
Pura Ulun Swi di Jimbaran adalah Pura Tua dan sejajar dengan Sad
Kahyangan di Bali berfungsi khusus yakni sebagai jiwanya sawah dan
ladang di Bali.

Fungsi Pura

Fungsi Pura
Ulun Swi itu sudah jelas dikemukakan di dalam lontar-lontar Kusuma Dewa,
Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Sri Purana Tattwa, adalah sebagai
Jiwanya Sawah dan Ladang di Bali.

Untuk lebih jelasnya, di sini dicantumkan lanjutan dari kutipan lontar-lontar tersebut sebagai berikut :

Lontar Usaha Dewa lembar ke-18 :

“…….asing
mangencak acine di Ulun Swi makadi panyungsunge di Mas Ceti, makadi
Rambut Sadhana, Bhatara Sri, mogha tan pamukti sarining sawah, uwung
ring pejangan, ring depukan, ring catwan, pangan kinum, mantuk ring
bhatara ring gunung agung, ring batur, sarining sawah ika, trak ikang
bhuwana akweh sasab merana, manusa kali sangsara……”

Maksudnya :

“……..setiap
tidak melaksanakan upacara di Ulun Swi dan juga persembahan di Mas Ceti
dan juga Rambut Sedhana, Bhatara Sri, berakibat tidak mengecap hasil
sawah, hampa dipejangan, didepukan, dicatuan, makanan dan minuman,
kembali kepada Bhatara Gunung Agung, hasil (sari) sawah itu,
kekeringanlah bhumi itu banyak hama wereng, orang berjiwa kalut………”

Lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, lembar ke-31 dan 32 :

“…….yan
angencak pangaci-aci kadewa ika kabeh makadi pangaci ring Kahyangan
Ulun Swi, winastu de Bhatara kabeh, ingamet sarining pari, mwang
sarining tetanduran ring sawah kabeh, karananya tan dadi, tan mupu,
wastu uwung ring pasawahan, wung ring pangalapan, uwung ring tenahan,
ring depukan, ring jirang, ring pulu, ring ceeng, uwung ring paruk,
terus uwung ring weteng, apan tan pasari mertha, wus kalap de bhatara
ginawa mantuk maring Gunung Agung, kalumbarin ingon-ingon Bhatara sarwa
merana kabeh, tekapte ya lumarep mangrusak sarwa tinandur………”

Maksudnya :

“…….Bila
tidak melaksanakan upacara kepada dewa itu semua, demikian pula upacara
di kahyangan Ulun Swi dikutuk oleh Bhatara semua, karena itu tidaklah
menjadi, tidak berhasil, berakibat hampa di sawah, hampa pada ikatan
padi, lumbung, di tempat beras, di takaran, hampa di periuk, menerus
hampa di dalam perut, karena tidak berisi sari/mertha, sudah diambil
oleh Bhatara, dibawa kembali ke Gunung Agung, disebari segala wereng
yang dipelihara oleh Bhatara semua datanglah wereng itu, memasuki segala
yang ditanam.………”

Lontar Çri Purana Tattwa lembar ke-1 :

“……..sapungkure
sang bhakabhumi, menyeneng ring Ulun Swi, ika mangraksa uriping
sarining sawah, ageng pakenane, kebo cemeng, pamapage, nangken, sasih
kapat, bandangan wong Bali ika………..”

Maksudnya :

“……….Kemudian
sang Bhakabhumi, bersthana di Ulun Swi, itu memegang jiwa dan badan
dari sawah, besar upacaranya, kerbau hitam upacaranya tiap sasih ke- 4
pengikat orang Bali itu………..”

Identitas Pura

Pura
Ulun Swi di Jimbaran adalah pura induk dan mempunyai
pesimpangan-pesimpangan di beberapa tempat yang juga bernama Pura Ulun
Swi, dan juga berfungsi sama yakni sebagai pemegang jiwa sawah dan
ladang, seperti :

  • Pura Ulun Swi di Desa Seseh, Kecamatan Mengwi
  • Pura Ulun Swi di Klungkung
  • Pura Sri Jong di daerah Tabanan
  • Pura Pakendungan di daerah Tabanan
  • Pura Ulun Swi di Moncos

Penyungsungnya

Secara historis dan menurut keterangan dalam lontar-lontar tersebut di atas bahwa Pura Ulun Swi di Jimbaran adalah “Bhandangan Wong Bali
atau pengikat orang Bali yang berfungsi khusus di bidang persawahan dan
perladangan. Pada jaman kebesaran Kerajaan Mengwi dahulu, pura itu
menjadi penyungsungan Kerajaan Mengwi yang kemudian lalu diserahkan dan
menjadi penyungsungan Kerajaan Badung.

Disebabkan oleh
perkembangan jaman dan perubahan-perubahan sistem pemerintahan di Bali,
lalu kenyataan sekarang Pura Ulun Swi itu diamong dan disungsung oleh
Desa Jimbaran yang terdiri dari 9 banjar atau kurang lebih 1.200 kepala
keluarga sedangkan masyarakat di luar Jimbaran, datang ke sana secara
insidentil dalam hubungan mohon keselamatan bagi tanam-tanaman di sawah
maupun di ladang.

Pemedek dari luar Desa Jimbaran yang sering
datang ke Pura Ulun Swi itu, ialah para Pekaseh, Subak dan Krama Carik,
untuk memohon keselamatan tanaman di sawah atau di lingkungannya
masing-masing.

Adapun pantangan untuk masuk ke Pura Ulun Swi, yang disebutkan dalam lontar bhisama yang tersimpan di Pura, adalah : Buda Wage, Buda Kliwon, mapan Ida Bhatari Sri, mayoga nurunang mahamreta, tan kapatut ngranjing ka Pura. Pada lontar itu ada tahun Candra Sangkala : Sunya Rasa Suddhaning Wong. Sunya = 0; Rasa = enam; Suddha = 0; Wong = 1. Jadi menunjukkan tahun Saka 1060 (1138Masehi).

Denah dan Susunan Pelinggih

Pura
Ulun Swi di Jimbaran menghadap ke Timur seluruhnya, berbeda halnya
dengan pura pada umumnya di Bali. Kami menduga bahwa adanya
pelinggih-pelinggih yang keseluruhannya menghadap ke timur itu adalah
pertanda bahwa pura itu berkiblat ke Gunung Semeru di Jawa Tengah, yang
menurut “Lontar Tantu Panggelaran” sebagai sthana
Bhatara Pasupati. Hal ini ada persesuaiannya dengan Pura Gunung Rawung
di Desa Taro yang palinggihnya menghadap ke Timur, karena berkiblat ke
Gunung Rawung di Jawa Timur (Pura Tua). Kemungkinan yang kedua adalah
karena ada kaitannya Pura Ulun Swi itu dengan Pura Batur dan Pura
Besakih.

Struktur pekarangan Pura Ulun Swi itu terdiri dari dua halaman, yakni :

  • Jaba Pura atau halaman luar, yang terletak di pinggir jalan raya jurusan Denpasar – Uluwatu.
  • Jeroan atau halaman dalam.

Sekeliling
pura itu dibatasi dengan tembok yang tinggi. Jaba pura dengan jeroan
dibatasi dengan tembok yang tinggi. Di Jaba Pura terdapat candi bentar
dan di sebelah kiri kanannya terdapat pohon beringin. Jalan masuk ke
jeroan melalui kori agung yang besar, berbentuk candi kurung dan di
sebelah kanannya ada kori kecil yang disebut babetelan, untuk jalan
keluar masuk bagi orang-orang yang ke dalam pura itu. Kori agungnya
terbuat dari batu bata sekarang batu hitam, dalam bentuk langsing,
sehingga hal itu mengingatkan kepada lanjutan kepada type bangunan pada
jaman Majapahit. Tetapi kori agung itu telah mengalami beberapa
restorasi, kecuali daun pintu beserta ulap-ulapnya masih merupakan
peninggalan dari Cokorda Munggu yang dibuat pada tahun 1763 Masehi.

Di
depan Kori Agung itu terdapat Arca Dwara Phala, berbentuk raksasa yang
diletakkan di sebelah kiri kanan tangga masuk. Arca itu adalah arca yang
digolongkan kuno (± abad 18), karena masih memakai wajralepa. Luar pura
itu seluruhnya adalah 96 meter x 66 meter = 6.336 meter persegi atau
63,36 are, terdiri dari Jaba Pura yang luasnya 66 meter x 30 meter =
1.980 meter persegi = 19,80 are dan Jeroan Pura yang luasnya 66 meter x
66 meter = 4.356 meter persegi = 43,56 are.

Mengenai keadaan pelinggih-pelinggih serta bangunan serta isinya masing-masing di Pura itu adalah sebagai berikut :

  • Pada Jaba Pura, tidak terdapat palinggih atau bangunan
  • Pada Jeroan terdapat :
  1. Meru
    besar bertumpang 11 dan di dalam meru ini terdapat 6 buah palinggih
    yang berbentuk Padma terbuat dari kayu. Meru ini adalah palinggih
    Bhatara Bhakabhumi dan 6 buah padmasana itu adalah palinggih pasimpangan
    Sad Kahyangan Jagat Bali.
  2. Gedong besar bertiang 4 : Palinggih
    Ratu Sasuhunan. Menurut Lontar Sri Purana Tattwa ini palinggih Ratu Gede
    Sabuh Mas, yang memegang walang sangit.
  3. Gedong kecil bertiang
    4, disebut Gedong Sudha Mala, palinggih siapa, belum jelas. Gedong besar
    bertiang 4, palinggih Ratu Pamayun. Menurut Lontar Sri Purana Tattwa
    ini palinggih Ratu Gede Langkeran, yang memegang tikus.
  4. Gedong banyak bertiang 6, palinggih Ratu Prancak
  5. Gedong kecil bertiang 4, palinggih Taksu Iringan
  6. Gedong kecil bertiang 4, palinggih Ratu Taksu Agung
  7. Balai Pangaruman atau Tajuk pangapit palinggih meru tumpang 11 fungsinya untuk menghiasi pralinggan Ida Bhatara
  8. Balai Gong, fungsinya untuk tempat gong, jika ada pujawali di pura itu.
  9. Balai Petandingan, fungsinya sebagai tempat membuat bebanten, ketika pujawali di pura itu
  10. Balai kecil bertiang 4, palinggih Balang Tamak
  11. Balai
    Tajuk atau Piyasan rangkaian palinggih Balang Tamak, fungsinya sebagai
    tempat bebanten untuk balang tamak ketika pujawali di pura
    itu. Palinggih Balang Tamak itu asalnya diletakkan di Jaba Pura. Ketika
    diadakan perbaikan pura itu, lalu palinggih Balang tamak itu dipindahkan
    dan ditempatkan di Jeroan pada sudut Timur Laut Pura Ulun Swi itu dan
    palinggihnya menghadap ke barat, berlawanan dengan arah palinggih
    lainnya di Pura Ulun Swi itu
  12. Balai Penyimpenan (bangunan modern) untuk tempat menyimpan unen-unen Bhatara berupa Barong
  13. Balai Perantenan, fungsinya sebagai tempat memasak untuk bebantenan dalam rangka pujawali di pura itu
  14. Sumur, tempat mengambil air untuk upacara-upacara
  15. Kori Agung berbentuk Candi Kurung, fungsinya sebagai tempat pemedalan Bhatara
  16. Kori kecil, berfungsi sebagai tempat bebetelan tempat keluar masuk pura bagi masyarakat
  17. Pohon beringin yang mengapit Candi Bentar pemedalan pura tersebut
  18. Candi Bentar pemedalan pura itu yang paling depan

Note
: Menurut Lontar Sri Purana, di sebelah selatan meru tumpang 11
(gedong setumpuk) sebagai linggih Bhatara-Bhatara Bhaka Bhumi (Sanghyang
Indra Bhumi) adalah palinggih berbentuk Tepasana sebagai linggih Sang
Kalasunya yaitu : Sedahan Bhatara di Ulun Swi yang memegang Empangan dan
parit-parit. Palinggih itu mestinya terletak di sebelah selatan
palinggih Ratu Gede Blengkeran, tetapi kenyataannya sekarang di sana
terdapat palinggih berbentuk Gedong Banjah sebagai Palinggih Ratu
Perancak. Besar kemungkinan Palinggih ini dimaksudkan sebagai palinggih
Ratu Kalasunya itu.

Di dalam Pura Ulun Swi itu tidaklah banyak
terdapat pralingga-pralingga. Pada bagian puncak dari meru tumpang 11
itu tersimpan 2 buah prerai (gambar muka) yang menurut pemangku di sana
berbentuk Siwa dan Budha. Tetapi prerai itu baru beberapa tahun yang
lampau dibuat oleh Ida Pedanda di Geriya Bindhu.

Adapun prerai
atau pralingga yang kuno, dan juga ada beberapa peralatan milik Pura
Ulun Swi telah terbakar habis pada jaman penjajahan Jepang, yang
disimpan di rumah seorang pengemong Pura itu di Banjar Pesalakan di Desa
Jimbaran. Pada palinggih-palinggih yang tidak ada pralingga-pralingga
atau pratima-pratima yang dijumpai sekarang ini.

Arca-arca batu
padas ada beberapa di sana dan yang terpenting adalah tiga buah arca
padas pada abad ke-17 berbentuk Arca Rudra, Arca Bhima dan Arca
Ganapathi yang menurut dugaan kami, bahwa arca-arca itu adalah kronogram
tentang tahun pendirian Pura Ulun Swi itu sebagaimana telah diuraikan
di depan.

Upacara dan Upakara

Upacara

Hari piodalan Pura Ulun Swi itu adalah pada hari : Sukra Pahing Dungulan,
tiap 210 hari sekali. Upacara rerahinannya ialah tiap hari Purnama,
Sukra Paing, Sugihan Bali, Tumpek Kuningan, Banyu Pinaruh, dan Tumpek
Uye.

Pada hari Purnama Sasih Kelima, Desa Jimbaran melakukan
upacara Ngusaba Desa yang diikuti oleh semua pura yang ada di wilayah
Desa Jimbaran, bertempat di Pura Desa, di sana Bhatara di Pura Ulun Swi
dihaturi pula ke Pura Desa. Waktu piodalan di Pura Ulun Swi, Bhatara
nyejer hanya satu hari saja, dan ketika itu beliau dihaturi wali
Baris/Pendet.

Apa yang dijumpai sekarang mengenai upacara di Pura
Ulun Swi itu, berbeda dengan keterangan-keterangan yang diperoleh dalam
lontar-lontar seperti : Usana Dewa, Kuttra Kanda Dewa Purana Bangsul dan
Sri Purana Tattwa.

Dari ketiga lontar tersebut di atas, diambil
intinya bahwa setiap sasih Kapat, patutlah menghaturkan pemendak Bhatara
yang berstana di Pura Ulun Swi dengan memakai aci berupa kerbau hitam.
Ketika itu, patut memohon tirtha ke Batur dan Gunung Agung dan
selanjutnya para Krama Carik memohon tirtha ke Pura Ulun Swi, untuk
dipergunakan pada masing-masing sawah/ladang. Lebih lanjut Lontar Usana
Dewa menyebutkan bahwa “bila ada halangan (candala) di empangan
(empelan) di Ulun Swi patut malik sumpah/ caru panca wali krama”.
Keterangan ini memberi petunjuk, bahwa Pura Ulun Swi itu berfungsi
penting.

Terjadinya perbedaan hari upacara dan piodalan itu,
disebabkan hari piodalan yang sekarang ini mengambil dari selesainya
pura itu diplaspas besar dahulu. Hal ini dimungkinkan pula menurut
keterangan di dalam Lontar Dewa Tattwa.

Mengenai upacara pemendak
Bhatara dengan kerbau hitam, rupa-rupanya pada jaman belakangan ini
tidak pernah dilakukan. Hal ini logis terjadinya karena ada ekses
ketegangan politik antara bekas Kerajaan Mengwi dengan bekas Kerajaan
Badung jaman dahulu, yang mengakibatkan terlantarnya pemeliharaan Pura
Ulun Swi Jimbaran.

Upakara

Bebanten yang dipergunakan pada upacara-upacara di Pura Ulun Swi itu ialah:

  • Banten Piodalan memakai banten yaitu : peras pengambeyan dan perlengkapannya lagi.
  • Untuk rerahinan memalai banten : sodahan, canang-canang dan segehan.

Kalau
upakara atau bebanten itu dibandingkan dengan upacara yang tersebut di
dalam lontar-lontar di atas, maka keadaannya sekarang jauh menciut, dari
ketentuan banten yang patut dipakai di Pura Ulun Swi itu. Pada pokoknya
setiap sasih Kapat patutlah menghaturkan karya yang memakai “Titi mamah
kerbau hitam” yang bermakna memendak bhatara di Pura Ulun Swi itu dan
secara filosofis bertujuan atau memohon kesuburan tanam-tanaman di sawah
dan ladang di daerah Bali.

Selain itu patutlah mengadakan
“aturan-aturan” tertentu sebagai pemendak tirtha ke Batur dan ke Gunung
Agung dalam rangkaian upacara di Pura Ulun Swi itu. Mengenai jenis-jenis
bebanten aturan itu secara mendetail disebutkan di dalam lontar-lontar :
Usana Dewa, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Sri Purana Tattwa.

Yang mengatur upacara :

  • Untuk rerahinan-rerahinan, diatur oleh Pemangku di Pura Ulun Swi itu.
  • Untuk Piodalan, upacaranya dihaturkan oleh Pemangku di Pura itu dan dibantu oleh pemangku lainnya di Desa Jimbaran.
  • Untuk
    Karya Besar, menurut ketentuan di dalam lontar-lontar tersebut di atas,
    upacaranya dihaturkan oleh Tri Sadhaka, yaitu Pedanda Siwa, Pedanda
    Budha dan Bujangga (Sengguhu/Resi)

Pemangku

Pura
Ulun Swi itu mempunyai pemangku tersendiri yaitu : I Wayan Kampil, umur
± 55 tahun dari Desa Jimbaran. Pemangku itu adalah keturunan dari
pemangku yang dari sejak dahulu untuk pura itu. Menurut keterangannya
sendiri, bahwa pemangku itu secara genealogis adalah keturunan Arya
Tegeh Kori dan ini ada persesuaiannya dengan keterangan dalam Babad
Jimbaran dimana Dalem Petak Jingga menugaskan Arya Tegeh Kori untuk
memelihara Pura Ulun Swi itu.

Proses pelantikannya ialah didahului
dengan upacara Pawintenan untuk calon pemangku itu. Setelah dilakukan
upacara tersebut, barulah ia boleh bertugas sebagai pemangku di Pura
itu.

Pemangku itu mempunyai tugas merawat dan sebagai orang yang
diberi wewenang naik turun (munggah tedun) di Pura itu dan juga
menyelenggarakan upakara yang kecil-kecil. Sebagai imbalannya, pemangku
itu dibebaskan dari beban paturunan dan pekerjaan (ayah) ke Desa.

dikutip dari : http://sudiatmika.com/pura-ulun-swi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s