Pura Yeh Gangga

pura yeh gangga

Menurut berbagai Purana keberadaan Sungai Gangga yang suci itu adalah di alam dewa yang disebut swarga atau sorga.Umat Hindu di seluruh dunia sangat meyakini bahwa kesucian Sungai Gangga yang ada di sorga itu dapat dimohon agar turun untuk menyucikan umat secara individual maupun secara bersama-sama. 

Nampaknya keberadaan Pura Yeh Gangga di Desa Perean Kecamatan Baturiti, Tabanan itu didirikan sebagai sarana sakral untuk memohon turunnya kesucian spiritual Sungai Gangga yang ada di sorga itu. Keberadaan Pura Yeh Gangga ini berdasarkan adanya peninggalan kepurbakalaan yang tertulis merupakan pura yang sudah sangat tua umurnya yaitu pada abad ke-11 Masehi.  

Kemungkinan Pura Yeh Gangga ini sebagai media sakral untuk memohon tirtha atau air suci bagi masyarakat Hindu di Bali saat itu. Karena palinggih yang ada di Pura Yeh Gangga itu menghadap ke semua penjuru. Dari keberadaan pelinggih seperti itu sangat kuat kemungkinannya bahwa Pura Yeh Gangga itu sebagai pusat nunas tirtha bagi umat Hindu dari seluruh Bali. Hal ini terjadi karena saat itu nampaknya belum banyak ada pandita yang mampu menciptakan tirtha suci dengan menggunakan Puja Sapta Gangga tersebut di atas. Sedangkan pengaruh Hindu dari India sudah demikian kuatnya saat itu di Bali.  

Terbukti dari prasasti yang diketemukan di Pura Yeh Gangga itu menggunakan bahasa Sansekerta. Keyakinan pada kesucian spiritual pendirian Pura Yeh Gangga itu sebagai sarana untuk mewujudkan keyakinan pada kesucian Sungai Gangga sebagai ciptaan Tuhan. Pemujaan Tuhan sebagai pencipta kesucian Sungai Gangga di sorga itu diselenggarakan dengan berbagai ritual sakral di Pura Yeh Gangga. 

Keberadaan Sungai Gangga di India pun didapatkan dalam berbagai Purana di Itihasa yang diuraikan lewat ceritra keagamaan yang sangat menarik dan dengan ceritra yang memiliki banyak versi sesuai dengan Itihasa dan Purana masing-masing. Dalam Bhagawata Purana, Vayu Purana, Markandeya Purana dan juga dalam Mahabharata dan Ramayana ada diceritrakan tentang turunnya Sungai Gangga di India dari sorga melalui Gunung Himalaya.  

Dalam Kitab Bhagawata Purana turunnya Sungai Gangga di India dari sorga diceritrakan sbb: Ada seorang raja bernama Raja Sagara memiliki dua orang istri bernama Kesini dan Sumati. Sumati memiliki 60.000 orang putra. Sedangkan Kesini hanya seorang saja. Suatu saat Raja Sagara mengadakan upacra Aswameda Yadnya atau upacara korban kuda. Kuda persembahan Raja Sagara itu disembunyikan oleh Dewa Indra. Seluruh putra Raja Sagara ditugaskan untuk mencari kuda persembahan yang hilang itu.  

Putra-putra Raja Sagara mencari kuda tersebut ke mana-mana. Kuda tersebut diketemukan di dekat pertapaan Resi Kapila. Putra-putra Raja Sagara menduga Resi Kapila itulah yang menyembunyikan kuda persembahan tersebut. Pertapaan Resi Kapila dirusak oleh putra-putra Raja Sagara. Resi Kapila sendiri pun disiksanya. Karena perbuatan yang keterlaluan itu menyebabkan Resi Kapila menjadi bangkit dari pertapaannya.  

Resi Kapila pun marah dan dari sorot matanya mengeluarkan api terus membakar habis hingga jadi abu seluruh putra Raja Sagara dari Sumati. Putra Raja dari Kesini bernama Asamanja masih hidup dan juga sudah berputra bernama Amsumana. Cucu Raja Sagara inilah yang mendapatkan tugas untuk mencari pamannya yang lama menghilang mencari kuda persembahan. Amsumana akhirnya bertemu dengan pamannya yang sudah menjadi abu di pertapaan Resi Kapila.  

Amsumana memohon maaf atas kesalahan pamannya yang telah menghina Resi Kapila. Resi Kapila memaafkan dan memberikan baha pamannya yang banyak itu akan terbebas dari neraka setelah keturunannya kelak dapat bertapa untuk menurunkan Sungai Gangga yang ada di sorga. Tapa brata itu pun dimulai oleh Amsumana.  

Setelah ia tiada dilanjutkan oleh putranya, Dilipa. Setelah Dilipa tiada tapa pun dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raja Bhagiratha. Dalam upaya memohon agar Sungai Gangga di sorga turun ke dunia, Raja Bhagiratha sebelum melakukan tapa brata minta berbagai nasihat kepada para resi dan juga Dewa Yama. Raja Bhagiratha mendapat nasihat yang sangat berharga dari Dewa Yama.  

Sungai Gangga akan turun ke dunia apabila Raja Bhagiratha di samping bertapa dengan roh rohani yang serius menurut petunjuk sastra, juga melakukan tapa dengan melakukan usaha yang bersifat duniawi. Seperti melakukan upaya untuk menjaga tetap lestarinya tumbuh-tumbuhan dan hewan, sungai-sungai dan hutan dilindungi, rakyat disiapkan pasar untuk tempat mereka berdagang serta mengupayakan lapangan kerja bagi rakyat. 

Demikian juga menghukum mereka yang melanggar secara adil, menyediakan tempat-tempat pemujaan umum bagi rakyat untuk memuja Tuhan. Semua nasihat Dewa Yama itu dilaksanakan oleh Raja Bhagiratha. Setelah sukses tapanya secara niskala dan sekala, Dewi Gangga bersedia dituntun ke bumi ini. Agar bumi ini tidak hanyut oleh aliran Sungai Gangga, maka Raja Bagiratha memohon Dewa Siwa menyaring aliran Sungai Gangga tersebut, sehingga tidak sampai menenggelamkan bumi ini. Demikianlah Sungai Gangga turun ke bumi dan sampai juga ke tempat abu jenazah putra-putra Raja Sagara.  

Setelah mendapatkan aliran air Sungai Gangga, semua roh putra Raja Sagara mencapai sSorga. Demikian salah satu versi cerita turunnya Sungai Gangga dari sorga ke bumi. Tentang keunikan Sungai Gangga di banyak diceritakan dalam berbagai sastra Hindu. 

Pura Yeh Gangga di Perean ini sebagai salah satu tradisi Hindu di Bali yang memuliakan kesucian spiritual Sungai Gangga tersebut. Sayang bagaimana sesungguhnya susunan Pura Yeh Gangga itu sangat sulit diketahui secara pasti. Hal itu karena saat Bali diserang gempa yang sangat hebat, hanya Pelinggih Meru yang tidak berantakan. Tahun 1954 dengan bantuan tenaga ahli pura tersebut dipugar kembali.  

Reruntuhan arca yang bernilai arkeologis itu masih ada yang dapat dikenali. Berdasarkan reruntuhan tersebutlah Pura Yeh Gangga itu dibangun kembali. Yang cukup unik dari Pura Yeh Gangga tersebut adalah ada Meru Tumpang Tujuh yang bentuknya merupakan perpaduan bentuk bangunan suci yang bercorak Siwaistik dan Buddhisme. Landasan Meru tersebut bercorak Buddhis, sedangkan tujuh tumpang atapnya jelas merupakan bentuk yang bercorak Siwaistik.  

Hal ini sangat logis karena berdasarkan peninggalan tertulis pura ini dibangun pada abad ke-11 di mana saat itu Bali dipimpin oleh Raja Swami, istri yaitu Raja Udayana dan permaisurinya Mahendaradatta. Raja Udayana menganut paham Buddha Mahayana, sedangkan permaisurinya menganut ajaran Siwa. Sangatlah tepat kalau bangunan suci Meru tersebut sebagai media untuk mengharmoniskan antara paham Siwaistik dengan Buddhisme. Di pura tersebut juga diketemukan Lingga sebagai sarana sakral untuk memuja Tuhan sebagai Siwa Parwati.

dikutip dari : http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/11/15/bd1.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s